Langsung ke konten utama

Media Pembelajaran Tradisional

 

 

MEDIA PEMBELAJARAN TRADISIONAL 

1. SELAWAT DULANG

a. Pengertian

Salawat dulang adalah alat musik tradisional Minangkabau yang menggunakan dulang/ talam sebagai alatnya. Salawat dulang erat kaitannya dengan dulang yaitu talam yang berbibir ditepinya. Bentuknya bulan berdiameter 65 cm, bagian tengah datar. Salawat dulang, juga disebut salawek talam atau salawat talam dalam dialek-dialek bahasa Minangkabau, merupakan sastra lisan Minangkabau yang bertema Islam. Sastra lisan ini berupa pertunjukkan dua orang membacakan hafalan teks diiringi tabuhan dulang, nampan kuningan berdiameter 65 cm. Salawat dulang tersebar luas di ranah Minangkabau dan kadang hanya disebut salawek atau salawat dalam percakapan sehari-hari.

Dalam pertunjukkan tersebut, dua pendendang duduk bersisian dan menabuh dulang bersamaan. Keduanya dapat berdendang bersamaan atau saling menyambung larik dalam syair. Pendendang umumnya laki-laki, namun demikian, kini terdapat pula pendendang-pendendang perempuan meskipun belum begitu berterima di masyarakat Minangkabau sendiri.

Penampilan salawat dulang berupa tanya jawab, saling serang, dan saling mempertahankan diri sehingga pendendang kadang dijuluki menurut nama-nama senjata, seperti "peluru kendali" dan "gas beracun" dan hanya bisa dilaksanakan bila pendendang berjumlah setidaknya dua orang. Pembacaan hafalan teks berdurasi antara 25 hingga 40 menit, biasanya berisi tafsiran dari ayat al-Quran atau Hadits yang telah ditulis sebelumnya. Sesi pembacaan satu teks ini disebut salabuahan (disebut juga satanggak atau satunggak).

Pertunjukkan salawat dulang dipertunjukkan pada hari-hari besar umat muslim seperti MaSulid Nabi, Idul Fitri, dan Idul Adha atau pada upacara bernuansa agama seperti ketika menaiki rumah baru dan khatam al-Quran. Tempat penyelenggaraan salawat dulang biasanya merupakan tempat yang dipandang terhormat menurut nilai masyarakat Minangkabau, seperti surau atau masjid, atau tempat untuk tamu yang dihormati bila diadakan di rumah penduduk (terletak di bagian kiri dari pintu masuk utama). 

b. Cara Main Salawat Dulang

Pemain duduk di atas lantai atau palanta yang dialas dengan tikar. Dulang atau talam diletakkan di atas paha dalam keadaan berdiri. Tangan kiri di samping memegang dulang sambil memukul dulang yang disesuaikan dengan gendang.

c. Pemain

Orangnya relatif sedikit jika dibandingkan dengan kesenian randai dan indang. Pemain hanya dua orang yaitu pemain induk dan pengiring yang sama-sama memegang talam. Kedua pemain bersalawat bersahut-sahutan dan juga bersama-sama. Biasanya ditampilkan dua grup untuk memeriahkan suasana.

d. Waktu Pelaksanaan

Salawat dulang biasanya ditampilkan di surau-surau setelah murid-murid selesai mengaji dan biasanya mereka tidur disana. Karena perkembangan zaman, salawat dulang tidak hanya ditampilkan di surau-surau saja tetapi juga ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti khatam Qur’an, khitanan, menaiki surau baru dan batagak panghulu. Waktu pelaksanaannya mulai dari jam 20.00 WIB atau sesudah sholat isya sampai subuh.

e. Tempat Pelaksanaan

Tempat pelaksanaan salawat dulang ini tidak dikhususkan atau memerlukan tempat khusus. Pemain dan penonton dapat menentukan tempat dengan bebas, bisa di lapangan dan bisa digedung dan surau.

f. Langkah-Langkah Dalam Salawat Dulang

1) Kata Pengantar mangandung puji-pujian pada Allah dan ucapan maaf pada penonton.

2) Mendendangkan kata-kata yang berisikan salam dan mohon keselamatan bagi nabi Muhammad serta keluarga dan sahabat.

3) Menyampaikan ajaran-ajaran syariat Islam, mendendangkan hal-hal yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

4) Mendendangkan hal-hal yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

 

g. Penonton

Penonotonnya tidak terbatas, baik tua maupun muda, laki-laki perempuan. Biasanya salawat dulang dihadiri oleh penonton yang cukup banyak. Biasanya penonton berminat pada acara lelang kuenya atau singgang ayam.

h. Pengaruh Isi Salawat Dulang Pada Penonton

Isi salawat dulang bisa menarik apabila dibawakan oleh orang yang sudah biasa dan dikenal oleh penonton. Mereka bersorak-sorak dengan gembira. Hal ini sering terjadi pada cerita cinta kasih. Penonton bersorak-sorak ganyang bana mengalahkan lawan, kalau kurang menarik antian ciek piah artinya hentikan satu rupiah, tukar lagunya.

i. Nilai-Nilai Yang Terkandung Dalam Salawat Dulang

Nilai-nilai yang terkandung dalam salawat dulang antara lain adalah sebagai berikut:

1) Nilai Religius, nilai religius yang terkandung dalam salawat dulang adalah nilai-nilai moral yang membicarakan tentang kemanusiaan, nama-nama Allah dan salawat kepada junjungan nabi Muhammad SAW.

2) Nilai pendidikan, dikatakan mempunyai nilai pendidikan karena menyampaikan informasi tentang pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan umum dan pengeta-huan agama.

3) Nilai budaya, dalam salawat dulang terkandung tata cara kehidupan masyarakat minang-kabau pada umumnya.

4) Nilai ekonomi sosial, pertunjukan salawat dulang ini banyak mengundang penonton yang bisa mengikat silaturrahmi antara penonton yang biasanya berjauhan. Disamping itu juga mendatangkan penghasilan karena terjadinya transaksi jual beli sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada waktu itu. Biasanya banyak anggota masyarakat yang berjualan makanan. Selain itu juga terjadinya lelang yang juga mendatangkan uang yang biasanya digunakan untuk pembangunan surau.

 

2. RABAB

a. Pengertian Rabab

Menurut penyelidikan rabab adalah salah satu unsur kebudayaan Islam. Rabab berasal dari negeri Persia yang diciptakan oleh Al-Farabi. Fungsi rabab ini mula-mula sebagai alat untuk berdakwah dalam Islam. Rabab masuk ke Sumatera Barat dibawa oleh pedagang-pedagang Islam. Bentuk rabab yang asli tidak dapat dikenal lagi. Sedangkan bentuk yang ada di Sumatera Barat adalah bentuk yang dibuat sendiri sesuai dengan kondisi daerah setempat.

b. Jenis Rabab

Ada 3 jenis rebab yang ada di Sumatera Barat yaitu:

1) Rabab Darek

Rabab darek adalah alat musik tradisional minang jenis gesek. Melihat pada kontruk-sinya rebab dapat dibagi atas tiga bagian yaitu badan, tangkai dan kepala. Rabab darek ini mempunyai tali dua buah yang terbuat dari benang dan mempunyai ukuran berbeda. Kesenian rebab sebagai hiburan, sampai sekarang masih disukai dan digemari oleh masyarakat minangkabau. Pertunjukkan diadakan jika ada pesta perkawinan, mengangkat penghulu, turun mandi anak dan lain-lain.

2) Rabab Pariaman

Rabab ini terbuat dari tempurung kelapa yang berukuran besar, pada bagian mukanya ditutup dengan selaput kulit tipis atau dari kulit kambing. Tangkainya terbuat dari sejenis bambu yang sudah kering dan diujung pangkalnya diberi potongan besi pipa supaya tidak mudah pecah. Rabab ini mempunyai tali sebanyak 3 buah yang terbuat dari benang yang masing-masingnya memiliki ukuran yang berbeda. Alat penggesek terbuat dari bulu ekor kuda atau senar nilon yang sangat halus. Rabab ini berfungsi: (a) untuk mengiringi kaba atau cerita-cerita rakyat; dan (b) sebagai hiburan pada acara perkawinan dan acara-cara khusus.

3) Rabab Pasisia

Rabab Pasisia adalah salah satu ragam seni pertunjukkan Minangkabau yang pada mulanya diciptakan oleh masyarakat Minang di daerah Pesisir Selatan. Orang Minang sering juga menyebabnya Rabab Baruah atau Rabab Pesisir Gaya Baru.

Pendendang dalam pertunjukkan Rabab Pasisia oleh masyarakat disebut “tukang rabab”. Kebanyakan tukang rabab pasisia berasal dari daerah Pesisir Selatan sendiri dan beberapa orang diantaranya berasal dari kota Padang.

Pertunjukkan Rabab Pasisia diiringi oleh alat musik gesek yang disebut rabab. Bentuknya menyerupai biola dan memiliki 4 helai senar. Senar terbuat dari dawai atau kawat halus yang terdiri dari satu dan dua sedangkan tiga tali dan empat terbuat dari benang. Alat musik ini diproduksi secara lokal, khususnya di daerah Pesisir Selatan.

Dewasa ini dalam pertunjukkan rabab pasisia kadang-kadang dipakai pula alat musik tambahan yang dimainkan oleh penampil lain yaitu rebana kecil (rapai).

Rabab pasisia biasanya dipertunjukkan pada malam hari. Pertunjukan berlangsung setelah sholat isya sampai sholat subuh. Pertunjukkan diadakan di tempat keramaian yang berfungsi sebagai hiburan rakyat yang bernuansa tradisional, seperti pesta perkawinan dan alek nagari, turun mandi dan pesta ada lainnya. Tempat pertunjukkan bisa di luar ruangan atau di dalam ruangan, tergantung pada tempat yang tersedia. Pertunjukan ini tidak mengenal panggung, penonton pada umumnya laki-laki.

Fungsi rabab pasisia di tengah-tengah masyarakat bersifat tontonan dan hiburan. Rabab ini khusus mengiringi kaba saja. Cerita atau pesan yang bisa dipesan lewat tukang rabab dengan cara menceritakan apa yang akan disampaikan kepada umum. Sebagai contoh, seseorang yang ingin menyampaikan maksud dan tujuan kepada khalayak. Maka sebelum tukang rabab mulai maka orang itu menemui tukang rabab untuk menceritakan apa yang akan disampaikan dalam pertunjukkan nantinya.

4) Rabab Tanjung Beringin

Rabab ini terdapat di daerah Tanjung Beringin, Muaro Sijunjung. Rabab Tanjung Beringin ini hanya dimainkan oleh individual saja yang tidak begitu digemari oleh masyarakat. Ini disebabkan oleh seniman pendukungnya yang sudah tua dan jarang sekali ditampilkan.

 

3. SALUANG

a. Pengertian Saluang

Saluang adalah alat musik tradisional khas Minangkabau, Sumatera Barat. Yang mana alat musik tiup ini terbuat dari bambu tipis atau talang (schizostachyum brachycladum kurz). Orang Minangkabau percaya bahwa bahan yang paling bagus untuk dibuat saluang berasal dari talang untuk jemuran kain atau talang yang ditemukan hanyut di sungai[1]. Alat ini termasuk dari golongan alat musik suling, tapi lebih sederhana pembuatannya, cukup dengan melubangi talang dengan empat lubang. Panjang saluang kira-kira 40-60 cm, dengan diameter 3-4 cm. Adapun kegunaan lain dari talang adalah wadah untuk membuat lamang (lemang), salah satu makanan tradisional Minangkabau.

Pemain saluang legendaris bernama Idris Sutan Sati dengan penyanyinya Syamsimar. Keutamaan para pemain saluang ini adalah dapat memainkan saluang dengan meniup dan menarik napas bersamaan, sehingga peniup saluang dapat memainkan alat musik itu dari awal sampai akhir lagu tanpa putus. Cara pernapasan ini dikembangkan dengan latihan yang terus menerus. Teknik ini dinamakan juga sebagai teknik manyisiahan angok (menyisihkan napas).

Tiap nagari di Minangkabau mengembangkan cara meniup saluang, sehingga masing-masing nagari memiliki ciri khas tersendiri. Contoh dari ciri khas itu adalah Singgalang, Pariaman, Solok Salayo, Koto Tuo, Suayan dan Pauah. Ciri khas Singgalang dianggap cukup sulit dimainkan oleh pemula, dan biasanya nada Singgalang ini dimainkan pada awal lagu. Sedangkan, ciri khas yang paling sedih bunyinya adalah Ratok Solok dari daerah Solok.

Dahulu, kabarnya pemain saluang ini memiliki mantera tersendiri yang berguna untuk menghipnotis penontonnya. Mantera itu dinamakan Pitunang Nabi Daud. Isi dari mantera itu kira-kira, “Aku malapehan pitunang Nabi Daud, buruang tabang tatagun-tagun, aia mailia tahanti-hanti, takajuik bidodari di dalam sarugo mandanga bunyi saluang ambo, kununlah anak sidang manusia...... dan seterusnya . 

Salah satu jenis saluang ada saluang darek.Saluang darek adalah salah satu musik tiup tradisi minangkabau. Dinamakan demikian karena bentuk dan khasnya serta perkembangannya yang lebih luas hampir seluruh daerah Sumatera Barat mengenalnya dan disukai oleh banyak orang.

Saluang darek dapat dimainkan tunggal, tetapi lebih banyak sebagai pengiring dendang yang membawakan berbagai macam irama dendang yang berbentuk pantun yang bersuasana gembira, sedih, ratok, dan kaba. Permainan saluang darek dapat didengar di mana-mana seperti di warung-warung atau di kedai-kedai pada waktu malam hari menjelang tidur dan dalam upacara-upacara adat dalam nagari.

b. Fungsi Saluang Darek

Pada umumnya saluang darek pada awalnya berfungsi sebagai hiburan untuk hiburaan pribadi pelepas kerinduan dan keresahan terhadap seseorang. Namun sekarang permainan saluang darek juga dapat dimanfaatkan untuk mencari dana pembangunan nagari dengan mendatangkan tukang saluang dari daerah lain.

 DAFTAR RUJUKAN

Abdulhak, Ishak. 1996. Strategi Pembelajaran Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Karunika, Universitas Terbuka

Ahmad Rohani dan Abud Ahmadi. 1991.  Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Djamarah dan Aswan Zain. 2002. Strategi Belajar Mengajar.  Jakarta: Rineka Cipta .

Ibrahim R dan Nana Syaodih. 2003. Perencanaan Pengajaran. .Jakarta:. Rineka Cipta.

Latuheru, John D. 1988. Media Pembelajaran dalam Proses Belajar Mengajar Masa Kini. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti

 Marsadji.  1993. Peranan Media Pendidikan  dalam Kegiaan Belajar Mengajar. Jakarta: Majalah Mutu, Edisi Januari-Maret 1993

Sardiman, A.S. dkk. 1989. Media Pendidikan Indonesia. Jakarta. CV. Rajawali.

Sadiman, Arif S. (dkk.). 1996. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Solfema  & Syur'aini.  2004.  Media Pembelajaran PLS (Hand Out Mata Kuliah). Padang: FIP –UNP

 

Komentar

Posting Komentar